Berpikir Kreatif tentang Hubungan Manusia Kunci Sukses seorang Pemimpin

Berpikir Kreatif tentang Hubungan Manusia Kunci Sukses seorang Pemimpin

Foto saat mengajar di SMTK Bethel Jakarta
Semua orang menginginkan dua hal dalam hidup ini, yaitu sukses dan bahagia.
Gambaran kesuksesan saya dan anda berbeda. Persamaan antara kesuksesan versi saya dan anda adalah "orang lain". Maksudnya kesuksesaan dan kebahagiaan kita tergantung pada orang lain. Mari kita ambil contoh, 
  • Seorang konten kreator fb pro, jika ingin monetisasi tergantung pada jam tayang dan interaksi dengan orang lain. 
  • Tingkat kebahagiaan seorang istri, tergantung sikap dan tindakan suami dan anak - anak. Termasuk juga tetangga sekitar. 
Banyak contoh yang menjelaskan bahwa kesuksesaan dan kebahagiaan kita tergantung pada kemampuan kita membina hubungan baik dengan orang lain. 

Cara membina hubungan yang baik dengan orang lain, bukan sekedar memiliki banyak teman atau asik di tempat tongkrongan, tetapi dalam kebersamaan itu, kita mampu menjaga agar tindakan yang kita lakukan tidak menyakiti ego (konsep diri) orang lain. Atau ego orang lain membuat kita jadi tersakiti sehingga membuat anda dan saya tidak bahagia. 

Contoh
"Seorang teman sesama konten kreator fb pro pernah menulis status", "kamu mampir, saya pun mampir"
Berpikir Kreatif tentang Hubungan Manusia Kunci Sukses seorang Pemimpin dalam Membangun Teamwork
Status FB Daeng Saro
Itu konsep dirinya, jika kita ingin memiliki hubungan yang baik dengannya maka jangan katakan orang tersebut, sombong, judes atau sejenisnya, karena itu prinsipnya. Jika anda katakan hal itu berarti anda telah merusak ego dirinya. Atau jangan sampai karena prinsipnya yang seperti itu lalu membuat kita sakit hati. Lakukan apa yang dia minta. Jadi kalau anda ingin dikunjungi olehnya maka kunjungi dirinya terlebih dahulu. Selesai urusannya. Ego dirinya terjaga dan anda bahagia karena mendapat kunjungan. Itu yang saya maksud dengan membina hubungan yang baik. 

Tentu masih banyak contoh yang bisa menjelaskan hal itu, namun point pentingnya adalah jika ingin sukses dan bahagia pelajarilah cara membina hubungan yang baik dengan orang lain.

Kepemimpinan dan organisasi (Intra Sekolah) OSIS

Kepemimpinan atau leadership. Kata dasarnya pimpin. Menurut KBBI kepemimpinan memiliki makna mengatur orang lain. Ada banyak teori kepemimpinan yang menjelaskan bagaimana cara menjadi pemimpin yang baik. Namun semua teori itu akan sia - sia jika seorang leader tidak mampu menjaga konsep diri (ego) dari orang - orang yang dipimpinnya.

Contoh
Seorang ketua OSIS tentunya memiliki anggota. Jika dalam kepemimpinannya terdapat anggota yang tidak banyak bicara tetapi dia bertanggung jawab dengan tugasnya maka jangan paksakan untuk pandai bicara seperti pembawa acara profesional. Apalagi dibumbui dengan kata - kata.
  • Kamu kuper bangat si,
  • Kamu parah bangat.              
Jika anda benar - benar mengatakannya maka kamu sudah merusak ego dirinya. Dampak yang akan ditimbulkan bisa jadi dia tidak bertanggung jawab lagi dengan pekerjaannya karena merasa pemimpin tidak mengerti dirinya. Bila itu terjadi maka anda gagal jadi pemimpin karena tujuan tidak tercapai. Team work hanyalah mimpi dari seorang pemimpin. (Martin Ruma)
Tulisan penuh dengan keterbatasan ini, saya persembahkan untuk calon pemimpin masa depan bangsa di Organisasi Intra Sekolah (OSIS) atau Pramuka. Tidak dimaksudkan untuk menggurui siapapun, hanya sharing personal saja.
Membaca Surat Kepala Sekolah Kepada Wali Murid Menjelang Ujian Kenaikan Kelas, Menyadarkan Kita Bahwa Pendidikan Bukan Tentang Nilai Rapor Saja

Membaca Surat Kepala Sekolah Kepada Wali Murid Menjelang Ujian Kenaikan Kelas, Menyadarkan Kita Bahwa Pendidikan Bukan Tentang Nilai Rapor Saja

Membaca Surat Kepala Sekolah Kepada Wali Murid Menjelang Ujian Kenaikan Kelas, Menyadarkan Kita Bahwa Pendidikan Bukan Tentang Nilai Rapor Saja
Martin Ruma (Batik Merah) Bersama orang Tua Wali
Surat kepala sekolah kepada wali murid pernah ramai di sosial media, terutama whatsapp. Isinya sesuai dengan dunia pendidikan saat ini, terutama dengan diterapkan kurikulum nasional yang cukup memberatkan siswa dan orang tua.

Ilustrasi sederhananya sebagai berikut:

Ada sebagian hewan pandai memanjat, sedangkan hewan yang lainnya tidak pernah memanjat pohon. 

Berbagai hewan diberikan keahlian masing - masing dengan bakat yang dimiliki, sehingga ada hewan yang bisa berenang seperti ikan, tetapi sebagian hewan lainnya hanya bisa hidup di darat dan tidak mampu berenang.

Dunia pendidikan seharusnya mampu membuat siswa betah belajar di sekolah, tetapi kenyataannya banyak siswa yang jenuh berlama-lama di sekolah.

Sekolah bagaikan siksaan untuk sebagian murid. Mungkin ini opini saya secara pribadi. Namun sebagai orang yang berkecimpung secara langsung dengan siswa sebagai wali kelas. Itulah keluhan siswa;

“Pak banyak tugas”,

“Pak saya pusing mau kerja yang mana duluan” dan lain sebagainya.

Pertanyaan refleksi buat kita, apakah ada yang salah dengan dunia pendidikan saat ini?.

Surat yang ditulis oleh seorang pendidik (kepala sekolah) kepada orang tua murid beberapa bulan sebelum ujian akhir; semoga bisa membuka “mata hati” dunia pendidikan di Indonesia saat ini.

Begini isi suratnya:

Yth orang tua murid, 
Ujian sekolah akan dimulai segera. 
Saya mengerti bahwa bapak atau ibu sangat berharap anaknya berhasil dalam ujian ini. Tetapi, ingatlah diantara para siswa yang akan ikut ujian, ada yang akan menjadi artis, yang tidak perlu menjadi pintar dalam matematika. 
Ada wiraswasta, yang tidak perlu tahu Sejarah atau Literatur bahasa Inggris. Ada musisi, yang nilai Kimia tidak penting buat dia. Ada olahragawan, yang kekuatan fisiknya lebih penting daripada Fisika. 
Jika anak bapak atau ibu mendapatkan nilai terbaik itu bagus sekali. Tetapi, jika tidak tolong jangan renggut atau ambil kepercayaan diri mereka. 
Katakan pada mereka bahwa hal itu tidak menjadi masalah, itu hanya sebuah ujian. Mereka akan melalukan sesuatu yang jauh lebih besar dalam hidup mereka. 
Katakan pada mereka, berapapun nilai mereka, Anda MENCINTAI mereka dan anda tidak akan menghakimi atau menilai mereka. 
Silakan lakukan ini dan jika anda melakukan ini, perhatikan bagaimana anak anda menaklukkan dunia. 
Satu ujian seharusnya tidak merenggut atau menghilangkan mimpi dan bakat mereka. 
Tolong jangan berpikir bahwa hanya dokter dan insinyur saja orang-orang yang berbahagia di dunia. 
Ada banyak di dunia ini yang bisa mendatangkan kebahagiaan. 
Salam Hangat,
Kepala Sekolah.

Sebuah surat yang mencoba memberikan pencerahan akan masa depan anak soal nilai akademik.

Jika nilai akademik rendah maka kita sebagai orang tua dan guru, bertindak seolah-olah paling benar. Kemudian memfonis anak.

“Kamu bodoh !”.

“Gimana si, gini aja ga bisa !”,

“Kenapa ga belajar ?”,

“Kamu si ga dengarin mama”, dan berbagai celotehan yang lain.

Nilai akademik bukannya tidak penting, namun itu bukan segalanya.


Rekan guru dan orang tua, meminjam istilah Bunga Citra Lestari; "kita pun pernah muda" dan tentunya pernah menjadi siswa.

Apakah yang kita lakukan saat menjadi pelajar beberapa tahun yang lalu?.

Apakah kita menjadi penurut atau sebaliknya?.

Kita rajin belajar atau pemalas?.

Lantas adilkah jika saat ini kita memvonis siswa dan anak-anak kita?.

Semoga bisa menjadi refleksi kita bersama dalam menghadapi anak zaman dengan beragam karakter. Jangan lupa baca juga 3 Cara yang Wajib Dijalankan oleh Orang Tua dan Guru dalam 'Menghadapi' Kidz Zaman Now.
3 Cara yang Wajib Dijalankan Oleh Guru dan Orang Tua Menghadapi Kid Zaman Now

3 Cara yang Wajib Dijalankan Oleh Guru dan Orang Tua Menghadapi Kid Zaman Now

3 Cara yang Wajib Dijalankan Oleh Guru dan Orang Tua Menghadapi Kid Zaman Now
Martin Ruma Bersama Cylin, Siswi SMA Tunas Gading Jakarta Utara
Menjadi guru era baru dan orang tua zaman now cukup sulit karena generasi yang dihadapi ialah kid zaman now. Kebenaran versi mereka sebagian besar ada di google, bukan orang tua dan guru. 


Lalu bagaimana caranya supaya terjalin komunikasi yang baik antara orang tua dan anak maupun siswa dan guru?. 

Ada banyak cara yang bisa dilakukan, namun menjadi teman mereka, ikut menjadi anak gaul dan akrab dengan teknologi barangkali bisa jadi solusi alternatif bagi guru dan orang tua.

Mari kita sama - sama melihat kondisi berikut ini.

Saat memperingati hari guru, mungkin para guru pernah mendapatkan ucapan selamat dari murid atau setangkai bunga yang berisi harapan dan doa?. 

Bisa juga tidak mendapatkan ucapan selamat dari murid, apalagi setangkai bunga atau sebatang coklat?.

Jika tidak mendapatkan ucapan selamat, mungkin para guru pernah berkata, “ah anak-anak zaman sekarang tidak seperti zaman kita sekolah dulu”. 

Atau pernah mendengar orang tua mengeluh, “semenjak adanya warnet, nilai anak saya jelek” dan berbagai keluhan yang lain.

Guru bangsa dan orang tua murid yang terkasih, itulah tantangan dalam mendidik. 

Ikuti 3 cara berikut ini, barangkali perubahan bisa terjadi.

Pertama #Jadilah sahabat bagi kid zaman now

Cara ini jika dilakukan dengan baik maka 30 % kenakalan siswa atau seorang anak bisa diatasi oleh guru dan orang tua.

Mengapa? 

Perkembangan teknologi membuat komunikasi antara orang tua dan anak semakin jauh. 

Segala perhatian dari orang tua dilakukan melalui media komunikasi, seperti line atau whatsaap. Itu dilakukan dari jauh, semantara secara psikologis proses pertumbuhan seorang anak membutuhkan perhatian dan kasih sayang yang sifatnya bertatapan langsung dari orang tua.

Di sisi yang lain adanya kurikulum 2013 membuat siswa lelah karena tugas-tugas sekolah sangat banyak. Jadi mereka membutukan suasana rileks saat bersama orang tua di rumah; sehingga mereka bisa bercerita banyak hal tentang kegiatan-kegiatannya di sekolah. 

Hal yang sama pun harus dilakukan oleh guru di sekolah, dari rumah seorang siswa membawa banyak persoalan, mulai dari kurang perhatian karena tuntutan kerja dari orang tua sampai masalah keluarga. 
Jadi solusi yang terbaik untuk mendidik siswa-siswi zaman now adalah menjadi teman bagi mereka, bukan menjadi guru yang kiler atau orang tua yang galak. Baca tips komunikasi yang baik antara guru dan murid agar kegiatan belajar dan mengajar berjalan lancar.
 
Menjadi teman bagi kid zaman now maka kemungkinan bagi mereka untuk terbuka dan menceritakan permasalahannya semakin besar. Dengan demikian sebagai orang tua dan guru bisa mengarahkan pada hal-hal yang lebih positif lagi.

Kedua #Orang tua dan guru harus gaul

Apakah kita harus membeli kamus gaul?, tidak sama sekali. Tetapi orang tua dan guru harus mengenal sedkit istilah-istilah seperti, alay, kepo, sabi, agut.

Supaya apa?

Agar tahu masalah apa yang dibicarakan sehingga ada hal yang salah maka orang tua dan guru bisa memperbaiki. Selain itu, dengan mengenal istilah gaul versi kid zaman now, siswa-siswi akan merasa lebih dekat dengan guru dan orang tuanya.

Melalui kedekatan tersebut maka cara kita mendidik akan lebih diterima oleh mereka.

Ketiga #Orang tua dan guru harus akrab dengan teknologi

Cara ketiga berlaku bagi orang tua dan guru yang tidak terbiasa menggunakan teknologi terkini, seperti instagram atau youtube.

Mengapa ini penting? 

Bagi generasi Y yang lahir di era milenial, mereka terbiasa menggunakan internet dan bersosial media.

Sebagai orang tua dan guru, kita tidak tahu pergaulan anak di luar sekolah atau di luar rumah. Tetapi dengan menggunakan sosial media yang juga digunakan oleh kid zaman now, kita bisa memantau aktivitas mereka di luar rumah dan di luar sekolah.

Demikian 3 cara yang wajib dilakukan oleh orang tua di rumah dan guru di sekolah dalam mendidik kid zaman now. 

Lakukan dan lihatlah perubahan yang ditunjukan. 

Tidak ada anak yang sulit, yang ada hanya orang tua dan guru yang kesulitan mendidik anak.

Penutup

Menjadi guru dan orang tua di zaman digital tidaklah mudah tetapi bukan berarti tidak bisa. Kita bisa mencoba memahami mereka melalui 3 cara.
  • Menjadi teman
  • Ikut gaul, dan
  • Akrab dengan teknologi.
Barangkali bisa dicoba untuk lebih memahami generasi kekinian. Selamat mencoba, semoga berhasil.

Penting:

Orang tua dan guru hebat di mana pun berada, dengan kerendahan hati saya mohon maaf bila tulisan ini isinya terlalu menggurui, tidak bermaksud mengajari orang tua di rumah dan guru - guru hebat di luar sana. Dia hanya mencoba berbagi ide dan gagasan. Jika bermanfaat, semua karena Tuhan, jika tidak berfaedah maka abaikan saja.
Selamat mendidik dan tetap semangat. Jangan lupa baca juga
 7 cara membuat guru bahagia dan murid senang mengikuti pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah.

7 Cara Membuat Guru Bahagia dan Murid Senang Mengikuti Pelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah

7 Cara Membuat Guru Bahagia dan Murid Senang Mengikuti Pelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah

7 Cara Membuat Guru Bahagia dan Murid Senang Mengikuti Pelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah
Martin Ruma bersama siswi Sekolah Kanaan Jakarta
Tulisan ini tidak bermaksud menggurui para guru. Mohon maaf jika ada kata atau kalimat yang 'bernada' menggurui. Tidak ada niat untuk merasa diri lebih tahu dari guru yang lainnya. Tujuannya hanya berbagi pengalaman.

Mari bapak dan ibu guru, kita sama - sama 'melihat' kegiatan belajar maupun mengajar di sekolah; selalu ada duka sisi, suka dan tidak suka, guru dan murid, mencintai dan membiarkan. 

Menciptakan harmonisasi antara hal - hal yang berbeda seperti ini membutuhkan cinta, senyum yang ramah dan sikap terbuka agar siswa merasa dicintai dan guru merasa dihargai. Kita akan membahas bersama - sama dalam tulisan yang berjudul 7 cara membuat guru bahagia dan murid senang mengikuti pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah. 

Mari kita lihat kondisi berikut ini.

  1. Guru Bahasa Indonesia yang ceramah terus menerus di depan kelas?
  2. Guru Bahasa Indonesia yang sepanjang pelajaran hanya duduk di meja guru?
  3. Guru yang marah - marah tanpa diketahui penyebabnya oleh siswa.

Siswa lelah karena jam pertama fisika, jam kedua matematika, jam ketiga sejarah. 

Metode yang digunakan adalah ceramah, kemudian jam terakhir guru Bahasa Indonesia masuk menggunakan metode yang sama. Dalam kondisi yang seperti itu, "apakah siswa bisa memahami apa yang diajarkan oleh guru Bahasa Indonesia pada jam terakhir?". 

Jawabannya tentu beragam, tetapi menurut saya siswa tidak maksimal lagi dalam mengikuti pelajaran karena lelah dan jenuh. Maka secara otomatis tujuan pembelajaran tidak akan tercapai secara maksimal. 

Jika tujuan pembelajaran tidak tercapai, apakah bapak dan ibu guru pernah mengeluh, "ah anak zaman sekarang susah, kita sudah berusaha maksimal tetapi minat belajarnya kurang".

Biar adil saya mengajak kita semua untuk melihat keluhan umum yang disampaikan oleh siswa.

  1. Gaya menggajarnya membosankan.
  2. Guru tidak mengerti siswa. 

Di sisi guru, bisa jadi mengharapkan tiga hal berikut ini.

  1. Dicintai murid.
  2. Nilai siswa bagus dan sikapnya sopan.

Pertanyaan reflektif buat kita semua, guru mana yang tidak ingin dicintai muridnya?

Belum sampai di depan kelas siswa sudah berteriak, "ibu - bapak, saya bawahkan bukunya ya”. Peserta didik semangat dalam belajar adalah harapan semua guru. Apalagi nilainya bagus dan sikapnya sopan. Tentunya yang ideal seperti itu agak sulit, tetapi bukan berarti tidak bisa. 

Mari kita sama - sama mempelajari 3 trik dan 5 tips berkut, semoga bisa menjadi solusi alternatif dari masalah - masalah di atas.

3 Trik membuat guru bahagia 

Pertama menjadi teman bagi peserta didik

Supaya guru bahagia maka jadilah teman bagi murid, maksud guru kampung bukan berarti setiap hari guru harus ke mall bersama siswa.

Bukan seperti itu, tetapi dalam membangun keakraban dengan siswa hendaknya jangan menonjolkan keguruan.

“Ah saya guru anda murid, jadi harus dengarin saya”. Tidak seperti itu, melainkan berbaur dengan siswa dan menciptakan suasana santai dalam belajar.

Bila perlu jika guru yang bersangkutan memiliki waktu luang bermainlah futsal bersama siswa atau mengundang siswa saat ulang tahun. Hal ini akan membangun kedekatan emosianal antara guru dan murid.

Tetapi ingat!

Kelakukan jangan seperti anak-anak, tetaplah sebagai seorang guru yang bijak dan tegas, namun santai dalam penerapannya. Maaf hanya mengingatkan saja.

*

Jika harus marah maka marahlah, asalkan pesannya jelas dan siswa tahu kesalahannya dimana. Namun perlu diingat, jangan pernah lupa untuk selalu menyediakan pintu maaf bagi siswa karena mereka sedang bertumbuh dan berkembang.

Jika lakukan trik ini maka percayalah murid-murid yang nakal di sekolah bisa dikendalikan karena mereka tahu guru ini respek terhadap mereka.

Kedua lakukan karena cinta

Trik yang kedua ini, bila dilakukan dengan benar maka bahagia dalam mengajar Bahasa Indonesia pasti terjadi.

Maksud saya ialah apa pun yang dilakukan oleh guru dalam mengajar di sekolah, lakukan atas dasar cinta kepada Tuhan;

  • Bukan untuk siswa,
  • Bukan untuk manusia pada umumnya,

Tetapi cara berpikirnya diubah, “saya ingin lakukan yang terbaik untuk Tuhan bukan untuk manusia”.

Intinya berilah kemampuan terbaik yang bapak dan ibu guru miliki kepada siswa karena cinta kepada Tuhan.

Jika hal ini dilakukan dengan sepenuh hati maka percayalah anda akan bahagia dalam mengajar Bahasa Indonesia di sekolah.

Contoh konkret seperti apa?

Hal-hal yang bisa dilakukan oleh bapak dan ibu guru di depan kelas bisa seperti ini.

  1. Berilah senyum kepada siswa, walau siswa itu membuat bapak dan ibu guru marah, anggap saja senyum terbaik ini saya berikan untuk Tuhan melalui siswa tersebut.
  2. Mengajar sejelas-jelasnya, berikan contoh yang paling kongkrit, buatlah siswa-siswi paham dengan seutuhnya maksud bapak ibu guru. Anggap semua yang dilakukan itu untuk Tuhan.

dan seterusnya, silahkan bapak dan ibu guru berkreasi sendiri.

Ketiga biarkan

Iya trik ketiga supaya guru bahagia saat mengajar adalah dengan membiarkan apa yang terjadi. 

Maksud guru kampung ialah, apabila bapak dan ibu guru sudah melakukan trik pertama, menjadi teman bagi siswa. Sudah menerapkan trik kedua, melakukan yang terbaik seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia, namun tidak ada perubahan yang terjadi pada siswa maka trik terakhir adalah biarkan.

Cara ini akan membuat guru bahagia.

  • Mungkin perubahan bukan hari ini,
  • Mungkin perubahan bukan di sini, tetapi percayalah setiap manusia pasti bisa berubah.

Selanjutnya tips supaya siswa senang belajar Bahasa Indonesia menurut guru kampung Martin Ruma Depores Karakabu.

Tips pertama #berikan senyuman kepada siswa

Amsal 17 hati yang gembira adalah obat yang manjur, ciri-ciri orang gembira salah satunya dengan tersenyum. Gembira dan bahagia kita yang ciptakan bapak dan ibu guru.

Sama halnya dengan mengajar Bahasa Indonesia, jika bapak ibu menginginkan siswa semangat dalam mengikuti pelajaran, maka biasakan untuk tersenyum ramah kepada siswa.

  1. Saat masuk kelas,
  2. Saat menjawab pertanyaan siswa,
  3. Saat memberi apresiasi kepada siswa; jangan pernah lupa untuk memberikan senyum yang tulus kepada siswa.

Tidak ada orang yang suka dengan sikap cemberut dan marah-marah, apalagi marak-marah yang tidak jelas kepada siswa.

Silahkan buktikan sendiri dan lihat hasilnya.

Tips kedua #bersikap terbuka kepada siswa

Bersikap terbuka yang guru kampung maksudkan di sini ada dua. 

Pertama bersedia dikritik oleh siswa, kedua mengajar dengan ekspresi.

Guru juga manusia, artinya guru juga bisa salah karena tidak ada manusia yang sempurna.

Menyadari hal itu maka bersikap terbuka adalah penting dalam rangka menciptakan pembelajaran yang komunikatif dengan siswa.

Contoh

Jika gurunya salah dalam menjelaskan materi, akuilah itu dan perbaiki segera. 

Beri apresiasi kepada siswa yang mengatakan hal itu, bukan malah siswa yang bersangkutan dimarahin.

***

Jika siswa dimarah oleh guru karena mengkritik gaya mengajar gurunya, menurut guru kampung itu kurang tepat.

Setiap manusia tidak ada yang sempurna, termasuk seorang guru sekalipun.

Jadi terbuka terhadap segala kritikan adalah ciri seorang pendidik sejati.

Maaf tidak bermaksud menggurui para guru, pernyataan di atas hanyalah pandangan subjektif saya.

Jika bapak ibu guru menerapkan tips ini, maka percayalah;

  1. Penghargaan dari siswa akan diperoleh,
  2. Semangat belajar dari peserta didik akan didapatkan.

Kedua Ekspresi

Selain itu, bersifat terbuka yang kedua adalah mengajarlah dengan ekspresi (bukan berarti berteriak).

Contoh:

Untuk menjawab pertanyaan Martin ada dua hal yang perlu dipahami.  

“Pertama….”

Jadi saat bapak ibu mengatakan ada dua hal, bukan duduk di meja guru dan mengatakan hal tersebut, melainkan berdiri, menunjukan dua jari. Kemudian menjelaskan satu persatu.

"Hal pertama, menunjukan 1 jari…dan seterusnya”

Tips ketiga #gestur yang menunjukan perhatian kepada siswa

Yang dimaksudkan gestur di sini adalah gerak tubuh yang menunjukan perhatian kepada siswa.

Contoh:

Apabila siswa sedang bertanya membungkuklah ke arah depan, kemudian fokuslah kepada pertanyaan siswa.

Jika melakukan tips ini maka siswa yang bersangkutan pasti senang, karena gurunya mendengarkan dengan penuh perhatian.

Tips keempat #memberi apresiasi dan semangat

Siapa si yang tidak mau dihargai?

Setiap orang pasti mau dihargai.

Siswa juga manusia muda yang membutuhkan penghargaan dan apresiasi dari guru.

Melalui apresiasi dan penghargaan membuat semangat siswa akan semakin besar, karena siswa merasa dihargai dan didukung oleh gurunya.

Ini bisa dilakukan melalui dua cara.

Pertama beri apresiasi melalui tepuk tangan,

Jempol, ataupun pengakuan, “wah luar biasa, ini keren bangat”.

Kelihatannya sepele tetapi ini sangat berarti bagi siswa.

Kedua melalui kontak fisik, 

Misalnya menepuk pundaknya, sambil berkata, “ini hebat, pak guru bangga sekali dengan kerjamu hari ini”.

Bisa juga dengan mengelus rambut sebagai tanda kasih sayang dari seorang guru kepada muridnya.

Tetapi ingat.

Bapak ibu guru harus tahu umur siswa dan tempat-tempat yang boleh atau tidak untuk disentuh oleh seorang guru.

Tips kelima #menatap siswamu dengan penuh perhatian dan cinta yang tulus.

Jangan gagal paham dengan kata cinta di atas bapak dan ibu guru. Baca dengan teliti maka bapak dan ibu guru tahu maksud saya. Pandanglah siswa dengan rasa sayang, lihatlah hatinya. Kedengarannya aneh dan membingungkan.

Sederhananya seperti ini, andaikan anda jadi siswa bagaimana perasaannya?

Kalau setiap usaha,

Pengorbanan, dan

Pengakuan jujur dari siswa terus menerus dianggap salah oleh guru?

Jadi tipsnya:

  1. Dengarkankan dengan penuh perhatian apa yang disampaikan oleh siswamu,
  2. Tataplah dengan penuh perhatian dan cinta yang tulus.
  3. Poin pentingnya adalah bersikap empati kepada siswa.

Jika ini dilakukan dengan tulus maka percayalah bapak dan ibu guru;

  • Cinta,
  • Penghargaan, dan
  • Semangat belajar yang tinggi akan terlihat dari siswa.

Penutup

  1. Guru dan murid saling membutuhkan satu sama lain. Namun dalam kegiatan belajar dan mengajar sering terjadi perbedaan pandangan. 
  2. Guru mengharapkan peserta didik yang memiliki nilai bagus dan sikap yang sopan. Sedangkan siswa mengharapkan pengertian dan teknik mengajar yang sederhana namun berkesan. 
  3. Cara mengatasinya ialah menjadi teman bagi siswa. Lakukan itu semua dengan ketulusan, seperti untuk Tuhan bukan untuk manusia. 

Tipsnya: 

  • Selalu tersenyum, 
  • Bersifat terbuka, 
  • Perhatian, dan selalu memberi apresiasi terhadap setiap hal baik yang dilakukan muridmu.

Semoga ulasan sederhana ini bisa bermanfaat bagi rekan guru sekalian. 

Lakukan semua karena cinta maka apresiasi akan diperoleh. Selamat mendidik guru - guru hebat.

Baca juga 3 cara yang wajib dilakukan oleh guru dan orang tua dalam 'menghadapi' kid zaman now 

Perangkat Mengajar Kurikulum Merdeka Belajar dan Ranguman Materi Semua Jenjang Pendidikan

Perangkat Mengajar Kurikulum Merdeka Belajar dan Ranguman Materi Semua Jenjang Pendidikan

Perangkat Mengajar Kurikulum Merdeka Belajar dan Ranguman Materi Semua Jenjang Pendidikan
Martin Ruma saat Mengajar Bahasa Indonesia secara Online
Administrasi seperti prota, prosem, RPP, jadi kewajiban seorang guru, apa pun kurikulumnya. Mas Menteri Pendidikan Nadin Makarim pernah bilang, guru - guru jangan dibebankan dengan administrasi. Namun perubahan kurikulum dari K 13 ke Merdeka Belajar hal itu pasti terjadi.

Meski namanya berubah dari RPP menjadi modul ajar, dari KD menjadi tujuan pelajaran, tetap saja guru harus membuatnya lagi. Bila harus membuatnya dari awal rasanya sungguh berat.
Berikut ini informasi tentang perangkat mengajar kurikulum merdeka belajar yang bisa bapak dan ibu guru modifikasi, lengkap dengan rangkuman materinya. Silakan cek di sini.

Jangan lupa baca juga Informasi Terlengkap tentang Kurikulum Merdeka Belajar

Sekian dan terima kasih semoga mampu meringkan beban di hati dengan adminsitrasi yang tidak pernah habis
Kegiatan Belajar dan Mengajar Berbasis Blog Menjadi Solusi Alternatif Pembelajaran di Era Digital

Kegiatan Belajar dan Mengajar Berbasis Blog Menjadi Solusi Alternatif Pembelajaran di Era Digital

“Mengajar berarti belajar lagi”. Oliver Wendell Holmes
Kegiatan Belajar dan Mengajar Berbasis Blog Menjadi Solusi Alternatif Pembelajaran di Era Digital
Martin Ruma saat Mengajar di Ruang Kelas Fase E Sekolah Kasih Karunia Jakarta Barat
Menjadi guru di era digital merupakan tantangan terberat bagi seorang pendidik. Bagi remaja milenial kebenaran versi mereka adalah google, bukan guru!. Segala yang dijelaskan oleh guru selalu dikonfirmasi kebenarannya di internet. Pertanyaanya, masih ampuhkah cara-cara lama yang diterapkan oleh seorang guru di depan kelas?

Tulisan yang berjudul Kegiatan Belajar dan Mengajar Berbasis Blog Menjadi Solusi Alternatif Pembelajaran di Era Digital hadir di hadapan sidang pembaca dengan tujuan untuk berbagi pengalaman; tentang pergumulan dan tantangan seorang guru kampung di SMA Kanaan Jakarta dan solusi alternatif yang ditawarkan.

Guru Blogger Solusi Alternatif Pendidikan di Era Digital
Bersama teman-teman Guru di SMA Kanaan Jakarta

Saya mulai dengan kutipan “tidak ada anak yang sulit, yang ada hanya orang tua dan guru yang kesulitan dalam mendidik anak” (Roswitha, IX: 2009). 

Kegiatan Belajar dan Mengajar Berbasis Blog Jadi Solusi Alternatif Pembelajaran di Era Digital
Kutipan di atas saya ambil untuk menjawab pandangan generasi X yang merasa seolah-olah masanya adalah suatu situasi yang paling benar daripada generasi saat ini (baca: generasi Y). Mungkin diantara kita pernah mendengar ungkapan-ungkapan seperti ini:

Anak-anak zaman sekarang susah diatur, baik itu dari para guru maupun orang tua. Beda banget dengan zaman kita sekolah dulu; dulu itu,…….”. Jika sampai pada bagian ini lantas semua memori masa lalu diungkapkan, dan kesannya seperti sedang mengadili generasi saat ini.

Ada juga kisah ibu-ibu arisan, “ini semua gara-gara warnet di situ, di sana, di sini. Semenjak adanya warnet nilai anak saya turun”.

Kegagalan dalam mendidik generasi milenial akhirnya pada taraf keputusasaan, maka benda mati seperti warnet pun disalahkan. Pertanyaan reflektifnya ialah 'siapa sebenarnya yang salah? 

Guru Kampung Belajar Menjadi Guru Era Baru

Guru Blogger Solusi Alternatif Pendidikan di Era Digital
Bersama teman-teman Guru di SMP Fef Papua Barat
Seorang guru kampung yang bertugas di distrik Fef, sebuah tempat yang jauh dari hiruk pikuk kota dan berjarak langit - bumi dari kecanggihan teknologi era digital. Fef adalah sebuah tempat terpencil di pedalaman Papua Barat. Kekuatan fisik dan mental yang prima adalah keharusan untuk menjangkau tempat tersebut. Jika dari Sorong Papua Barat, maka harus menempuh perjalanan laut sekitar 8 jam menuju Sousopor, ibu kota kabupaten Tambrauw. Tak lupa, masih ada perjalanan darat menggunakan mobil pick up dabel garden. Kemudian yang terekstrim yaitu menerjang hutan belantara Papua Barat dengan berbagai aral melintang.

Butuh waktu sekitar 12 jam untuk mencapai distrik Fef jika cuaca sedang baik. Kalau musim hujan, maka butuh waktu 1 atau 2 hari untuk sampai di tempat tujuan karena jalanan yang dilalui pasti tidak bersahabat, tanah liat bercampur lumpur sungguh menyulitkan pengemudi. (Tahun 2013 lalu),

Guru Blogger Solusi Alternatif Pendidikan di Era Digital
Bersama anak-anak Fef Papua Barat
Apabila terjadi situasi seperti ini maka dapat dipastikan penumpang dan pengemudi harus bermalam di jalan. Kalaupun bernasib baik maka sampai di tempat tujuan akan disambut dengan kegelapan yang pekat dan gulita sebab daerah tersebut belum ada listrik, (pada tahun 2013 lalu).

Mall?. Tak usah dibayangkan sebab satupun tidak ada. Sinyal HP? Kalau ada satu bar berarti keajaiban. Di sini yang tersisa hanya kabut tebal yang menyelimuti hutan perawan di wilayah tersebut. Itulah tempat tugasku sebelum pindah ke Jakarta. Selengkapnya bisa baca melalui artikel yang berjudul, 6 Hal yang harus disiapkan sebelum bertugasdi Fef Papua Barat.

Guru Blogger Solusi Alternatif Pendidikan di Era Digital
Bersama siswa-siswi kelas XI IPS SMA Kanaan Jakarta
Pada tahun 2013, suatu alasan mengharuskan saya pindah ke ibu kota dan mengajar di SMA Kanaan,Jakarta. Ini seperti air di padang gurun. Saya berada di ibu kota Jakarta yang hebat, berhadapan dengan siswa yang luar biasa dan harus menggunakan teknologi seperti internet, komputer, power point dan sederet fasilitas canggih dari sekolah, bak mimpi yang menjadi kenyataan. Sesuatu yang tidak pernah ada di sekolah tempat saya bertugas sebelumnya yaitu SMP Negeri 1 Fef, Kabupaten Tambrauw, Papua Barat.

**

Peralihan dari suatu kondisi pendidikan yang jauh dari kata ideal pada suatu keadaan pendidikan yang serba ada menjadikan pengalaman dan tantangan tersendiri untuk saya saat itu.
Kerap kali saya mencoba meyakinkan diri sendiri bahwa saya bisa. Namun harapan terkadang tidak sesuai dengan kenyataannya.

Mengapa demikian?,

Baca lebih lanjut maka sobat akan menemukan jawaban.

**

Pagi itu, dengan derap langkah yang pasti saya memasuki kelas XI IPS 2, SMA Kanaan, Jakarta. Sejenak, seisi kelas terdiam menyaksikan seorang guru dengan rambut keriting dan berkulit hitam memasuki kelas mereka. Suasana kala itu benar-benar sunyi nan senyap. Hanya tatapan penuh tanya dari 26 siswa-siswi di kelas itu. Jujur ini sangat menegangkan bagi saya di hari pertama saya bertugas.

“Siapa sih orang ini?” batin saya tentang pemikiran siswa saat itu, jika boleh saya berasumsi. “Selamat pagi anak-anak, saya Martin guru Bahasa Indonesia yang…….” Kalimat tersebut belum selesai terucap, masih menggantung di udara. Namun, seisi kelas mulai tertawa terbahak-bahak dengan berbagi komentar yang mengiringi. Bahkan ada yang mengatakan, “sumber air sudah dekat”.

Entahlah saya tidak mengerti maksud anak-anak ini, ada pula yang mengatakan saya mirip Boas Salosa, kapten tim sepak bola PERSIPURA Jayapura. Ada juga yang meniru ucapan saya dengan dialek Indonesia Timur yang melekat saat itu.

Benar-benar suatu ucapan selamat datang yang melunturkan kepercayaan diri saya, sekaligus menghadirkan sebuah tanda tanya besar dalam benak saya. Apakah saya bisa mengajar dengan baik di tempat ini?”.

***

Hari berlalu dan semuanya tidak menjadi lebih baik, sambutan yang sama saya terima dari kelas-kelas yang lain. Kondisi ini berdampak pada kegiatan belajar mengajar secara paralel. Anak menjadi sulit untuk menerima kehadiran saya, termasuk gaya saya mengajar. Untuk gaya mengajar, saya bisa memahami karena metode yang dipakai adalah ceramah. Selanjutnya saya mengubah metode dan pendekatan, namun hasilnya pun tidak lebih baik, malah nilai dan animo belajar semakin menurun.

Di sisi lain siswa lebih rajin update status di sosial media daripada mencatat kembali pelajaran yang saya jelaskan.

Guru Blogger Solusi Alternatif Pendidikan di Era Digital
Blogging/Martin Ruma
Hal ini saya ketahui setelah memantau keberadaan anak di luar jam sekolah melalui sosial media mereka masing-masing.

Kejadian yang saya nyatakan bukan pandangan para pakar tetapi kesan yang saya dapati di tahun pertama mengajar di SMA Kristen Kanaan Jakarta.

Bahkan pada taraf yang paling sulit untuk saya pahami ialah mereka meminta bahan ajar (slide power point dan dan materi yang lain) dikirim melalui email untuk dipelajari kembali di rumah.

Saat ditanya, mengapa melakukan hal tersebut. Jawaban yang saya dapatkan adalah, “pak, kalau ada yang lebih mudah, ngapain dipersulit sih?”.

Kenyataan yang sulit dan pengalaman-pengalaman perjumpaan dengan siswa di tahun pertama mengantarkan saya pada suatu refleksi bahwa, untuk menjadi guru era baru yang bisa diterima oleh siswa milenial maka guru harus akrab dengan teknologi.

Alasan saya sederhana yaitu siswa yang dihadapi adalah generasi 'Y' yang akrab dengan teknologi. Oleh karena itu, bagian kedua saya ingin berbagi cerita tentang blog dan peran guru di era digital. 

Guru Kampung Menjadi Guru Blogger

Guru Blogger Solusi Alternatif Pendidikan di Era Digital 4.0
Pelatihan Menulis blog bagi guru di SMA Kasih Karunia Jakarta
2014 merupakan tahun kedua saya di SMA Kanaan Jakarta. Variasi metode yang tidak berhasil di tahun pertama telah mengantarkan saya pada suatu kesimpulan bahwa kemasan pelajaran harus berbasis pada teknologi kekinian.

Demi mengawali komitmen ini, pertama-tama saya meminta siswa membuat grup line. Setiap kelas harus mempunyai grup line untuk memudahkan komunikasi dalam kegiatan belajar mengajar Bahasa Indonesia.

Selanjutnya grup-grup tersebut menjadi media saya dan siswa untuk berkomunikasi dan belajar Bahasa Indonesia tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu.

Bagaimana caranya?

Saya membuat blog dengan platform blogspot versi gratisan.

Blog tersebut saya beri nama gubanesia yang artinya guru Bahasa Indonesia. (Update: blog tersebut sudah saya jual pada bulan April 2023). Sekarang sedang membangun personal branding yang baru melalui Rumah Belajar Pandunesia.

Kegiatan Belajar dan Mengajar Berbasis Blog Menjadi Solusi Alternatif Pembelajaran di Era Digital

Selanjutnya saya mengisi materi pelajaran Bahasa Indonesia, tugas-tugas yang harus dikerjakan sampai dengan nilai yang diperoleh siswa ada dalam blog itu. Semua tentang Bahasa Indonesia. Selanjutnya di share melalui grup line.

Bila ingin melihat blog yang dimaksud, silakan berkunjung ke www.rumahbelajarpandunesia.web.id bukan www.gubanesia.com

***

Tahap berikutnya, saya sebagai guru harus siap dengan gadget untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan siswa terkait tugas dan lain-lain secara online.

Guru Blogger Solusi Alternatif Pendidikan di Era Digital 4.0
Mendapatkan kejutan di hari ulang tahun
Cukup berhasil saat saya menggunakan cara ini, siswa tertarik dan saya menjadi idola baru bagi siswa karena menciptakan cara belajar versi mereka.

Bahasa Indonesia yang dulunya membosankan bagi mereka kini berubah menjadi yang dinanti – nanti di hadapan kelas.

Mengapa?.

Siswa - siswi menunggu informasi hasil tugasnya sudah dipublish di blog atau belum, sebagai syarat bahwa siswa yang bersangkutan telah berhasil mencapai KKM.

Baca: Manfaat Kegiatan Belajar Maupun Mengajar Menggunakan Blog bagi Guru dan Siswa

Jika karya siswa tidak terpublish sampai batas waktu yang ditentukan, itu artinya yang bersangkutan harus berusaha lebih keras lagi karena belum mencapai standar minimal yang diberikan.

Pengalaman saya menggunakan cara ini, sebagian besar siswa sangat antusias dan maksimal dalam mengerjakan tugas yang diberikan karena mereka tidak ingin menjadi nomor dua. Semangat kompetisi sangat terlihat saat saya menggunakan cara ini.

Guru Blogger Solusi Alternatif Pendidikan di Era Digital 4.0
Belajar membuat blog
Sebagian dari siswa mengutarakan niatnya untuk membuat blog dan menuliskan pengalaman-pengalamannya. Akhirnya saya putuskan untuk menciptakan pelajaran Bahasa Indonesia berbasis blog.

Pembelajaran berbasis blog di SMA Kanaan Jakarta

Tahun 2015, SMA Kanaan Jakarta menjadi satu dari sekian sekolah di DKI Jakarta yang menerapkan kurikulum 2013; sehingga sekolah mengeluarkan kebijakan yang memperbolehkan siswa membawa HP ke sekolah (sebelumnya dilarang).

Dengan didukung oleh fasilitas Wi-Fi yang cukup memadai maka kesempatan untuk mewujudkan pembelajaran Bahasa Indonesia berbasis blog pun saya terapkan.

Langkah pertama saya mengajari anak cara membuat blog melalui platform blog gratis, baik blogspot maupun wordpress, siswa bebas memilih platform blog yang disukai.

Rupanya tidak semudah yang saya bayangkan, berbagai kesulitan datang. Kesulitan-kesulitan tersebut antara lain:

Waktu bersama keluarga jadi terganggu

Kegiatan belajar model ini sangat menyita waktu bagi guru. Waktu yang seharusnya digunakan untuk berkumpul bersama keluarga menjadi terganggu. Seorang guru harus merelakan beberapa jam untuk membimbing siswa-siswi secara online di luar jam sekolah. Fase ini ruang dan waktu tidak dibatasi, siswa 'bebas' berinteraksi dengan guru. Pembelajaran pun tidak sebatas guru atau pun di dalam kelas. Itulah kendalanya, yakni waktu bersama keluarga jadi terganggu.

Minim pengalaman menulis

Minimnya pemahaman dan kemampuan sebagian siswa dalam hal menulis. Ini kendala kedua yang saya hadapi, sebab bicara blog berarti konten yang dibahas, untuk menghasilkan konten yang baik maka seorang siswa harus memiliki keterampilan menulis.

Kurang pengetahuan tentang blog.

Kurangnya pengetahuan saya tentang dunia bloging, seperti cara mengganti template, menambahkan widget, dan seluk beluk blog yang belum saya ketahui secara pasti.

Kendala ini saya hadapi sebab ide awal membangun blog hanya bermodalkan tutorial yang bertebaran di internet. Akibatnya saat ditanya oleh siswa tentang seluk-beluk blog secara spesifik saya tidak bisa menjawab. Dampaknya kepercayaan siswa terhadap saya perlahan-lahan sirna.

Hal-hal tersebut menyebabkan ide pembelajaran berbasis blog vakum cukup lama.

Evaluasi

Guru Blogger Solusi Alternatif Pendidikan di Era Digital 4.0

Saat vakum tersebut saya coba menganalisis kelemahan dan keunggulan, juga daya dukung untuk membangun ide pembelajaran berbasis blog.

Pantang menyerah, saya memulai kembali dengan angkatan yang baru ditahun ajaran 2015 (saat itu kelas 10 sekarang kelas 12).

Tahun ajaran baru, 2015/2016. Pada awal tahun, saya meminta pihak sekolah untuk mendatangkan seorang blogger profesional untuk mengajari siswa-siswi tentang blog.

Setelah berdiskusi dan saya menjelaskan maksud dan tujuan akhirnya disetujui oleh pimpinan. Seorang blogger professional didatangkan di SMA Kanaan Jakarta. Yang diajarkan bukan seluruh siswa-siswi SMA Kanaan Jakarta tetapi siswa-siswi yang tergabung di ekskul jurnalistik.

Guru Blogger Solusi Alternatif Pendidikan di Era Digital 4.0
Tim Jurnalistik SMA Kanaan Jakarta

Kebetulan saya pembina ekskul tersebut sehingga mudah dalam mengakomodir siswa.

Guru Blogger Solusi Alternatif Pendidikan di Era Digital 4.0
Pelatihan Menulis untuk Tim Jurnalistik Sekolah dari Nulis.Id
Sekitar 4 kali pertemuan tentang dasar-dasar blog rasanya sudah bisa diterima oleh siswa milenial. Langkah selanjutnya melalui 12 anak jurnalistik, saya minta mereka menjadi tutor sebaya, sekaligus membantu saya mengajari tentang seluk beluk blog pada siswa-siswi yang lain.

Proses seperti ini terus berjalan sampai saat ini, diskusi dan pembelajaran kami melalui grup line pada setiap kelas.

Link dari blog yang dibuat harus memakai nama siswa, demikian juga dengan nama blognya.

Hal ini bertujuan untuk memudahkan saya dalam memeriksa pekerjaan siswa secara online melalui blog utama.

Caranya bagimana?

Blog-blog dari siswa-siswi saya kelompokkan menurut kelasnya masing-masing, kemudian saya tautkan ke blog utama milik saya. Kesimpulannya kendala tentang blog bisa diatasi.

Guru Blogger Solusi Alternatif Pendidikan di Era Digital 4.0
Tim Jurnalistik Sekolah mendapat Kunjungan dari Wartawan Net Tv
Selanjutnya kendala kedua soal menulis. Ini adalah tugas saya sebagai guru bahasa Indonesia.

Tidak ada teori yang muluk-muluk untuk diberikan, saya cuma meminta siswa untuk meringkas kembali materi yang saya ajarkan dan dimasukan ke dalam blog. Sedangkan halaman about me saya minta siswa yang bersangkutan untuk menulis profilnya secara lengkap; tujuannya untuk mengenal siswa itu lebih baik. Selain itu, saya pun mempublish latihan soal, maupun tugas-tugas tentang Bahasa Indonesia lengkap dengan kriteria penilaiannya untuk dikerjakan di blog masing-masing.

Selanjutnya hasil penilaian akan saya umumkan via blog utama milik saya.

Jika ada siswa-siswi yang tidak mencapai KKM maka harus memperbaiki disertai dengan hukuman (yang disepakati bersama), yaitu meringkas salah satu mata pelajaran.

Hukuman tentang meringkas pelajaran ini secara perlahan saya jelaskan kepada siswa, maksudnya membiasakan siswa yang bersangkutan untuk menulis.

Manfaat praktisnya apabila guru menyampaikan ulangan tentang topik tertentu pada hari Jumat, sedangkan hari Senin sudah harus ujian; sementara Sabtu dan Minggu libur (waktu siswa bersama keluarga), misalnya berwisata ke Puncak atau berekreasi ke Ancol.

Maka dengan adanya hukuman tersebut, siswa-siswi yang bersangkutan tidak perlu harus membawa buku, cukup membuka blognya dan mempelajari kembali tulisan-tulisan yang diringkas, entah itu pada saat dalam perjalanan atau di saat waktu senggang.

Sampai pada taraf ini maka waktu bersama keluarga dapat terakomodir dengan baik, serta tugas dan tanggung jawab sebagai pelajar teratasi. Hal-hal seperti inilah yang terus saya berikan pengertian dan motivasi kepada siswa untuk tidak memandang seberapa berat hukumannya, melainkan untuk melihat manfaatnya. Dengan harapan besar, bukan hukuman yang membuat siswa itu menulis melainkan kesadaran akan manfaat yang diterima.

Selanjutnya, masalah waktu koreksi dan konsultasi. Bersama siswa kami sepakati, dengan satu pemikiran bahwa Sabtu dan Minggu adalah waktu bersama keluarga tetapi ada tugas dan tanggung jawab yang harus diselesaikan.

Maka komitmen kami adalah setiap hari sabtu pagi pukul 08.00 – 10.00 WIB adalah waktu saya mempublish nilai siswa dan mengoreksi pekerjaan siswa secara online (jika ada). Oleh karena itu, siswa-siswi yang tugasnya akan dikoreksi oleh saya dijam yang telah disepakati harus online; untuk sekedar melihat nilai atau memperbaiki koreksian. Lewat dari jam tersebut tidak dilayani sebab itu adalah waktu untuk siswa dan saya sebagai guru bersama keluarga.

Awalnya memang sulit tetapi jika guru mampu mengajak siswa untuk bertanggung jawab dan disiplin hal ini sangat mengasikkan.

Lantas pertanyaannya, jika demikian apa yang dilakukan saat pelajaran Bahasa Indonesia di kelas?.

Jika 2 jam pelajaran, biasanya 1 jam saya gunakan untuk menjelaskan kembali materi yang telah saya tulis di blog utama dari KD yang diajarkan hari itu.

Satu jam lagi saya memanggil siswa satu persatu untuk menggobrol. Apa yang diobrolkan?

Topiknya bebas.

Intinya, saya berusaha untuk dekat dengan siswa dan terus membangun komunikasi; sebab harus diakui konsep pembelajaran seperti ini akan berhasil jika guru bisa menjaga komitmen dan bisa memotivasi siswa. Selain itu, siswa-siswi harus memiliki rasa tanggung jawab dan disiplin tingkat tinggi sebab antara guru dan siswa dibatasi oleh ruang yang berbeda; sehingga 1 jam tersebutlah waktu bagi saya untuk membangun kembali motivasi siswa, menanamkan arti disiplin dan menumbuhkan rasa tanggung jawab.

Apa yang saya bagikan ini, sampai dengan saat saya menulis artikel ini masih dijalani. Tetapi penerapannya di sekolah yang berbeda, yakni Sekolah Kasih Karunia Jakarta (tahun 2019).

Kendala tentu ada, tetapi kemauan dari siswa-siswi untuk bersama-sama menjalani ide inilah yang membuat saya mampu menjalaninya dan bertahan sampai saat ini.

Kesimpulannya tidak ada siswa-siswi yang sulit untuk diajak bekerja sama dalam menciptakan ide kreatif di era digital; sebab siswa – siswi milenial sangat kreatif. 

Hanya perlu mengambil satu langkah untuk mengenal siswa lebih dekat agar tahu banyak hal tentang mereka. Jika sudah mengenal siswa dengan baik, maka apapun konsep seorang guru termasuk inovasi-inovasi dalam menciptakan pembelajaran yang kreatif dan menyenangkan pasti akan berhasil.

Tidak bermaksud mengajari bapak dan ibu guru yang hebat di mana saja berada, saya percaya kualitas murid adalah gambaran kemampuan seorang guru.

Landasan Teori

Siapa sih generasi milenial?. Generasi milenial adalah generasi yang lahir pada kisaran tahun 1980 – 2000 an. Kadang disebut juga dengan generasi Y. Jadi siswa milenial yang saya maksudkan dalam tulisan ini adalah mereka yang lahir mulai dari tahun 2000 hingga 2017.

Kelompok ini lahir saat internet sudah diperkenalkan sehingga generasi milenial mahir dalam teknologi. Oleh karena itu, untuk memahami cara belajar siswa milenial seorang guru dituntut oleh zaman untuk mengemas pelajaran yang dekat dengan dunia anak zaman sekarang. Itu adalah kesimpulan dari pergumulan saya menerapkan pembelajaran berbasis blog di SMA Kanaan Jakarta.

Internet yang terkoneksi melalui sosial media dan platform blog gratis menjadi jawaban saya dalam mengatasi tantangan mengajar di era digitalisasi.

Semangat tersebut dilandasi oleh pemikiran Khoe Yao Tung dalam bukunya Pendidikan dan Riset di Internet yang dikutip kembali oleh Herman J. P Maryanto dalam bukunya yang berjudul Guruku Matahariku (hlm, 30).

Internet memiliki kontribusi signifikan dalam pelajaran di sekolah, diantaranya:

  1. Sebagai sarana interaktif yang didukung oleh basis data yang sangat banyak dan lengkap.
  2. Memungkinkan siswa untuk belajar jarak jauh sehingga kendala ruang dan waktu dapat tereliminasi.
  3. Memungkinkan siswa untuk belajar dengan gayanya sendiri.
  4. Dengan karakteristik internet synchronous dan asynchronous communication memungkinkan siswa untuk belajar sesuai dengan kecepatannya.
  5. Siswa belajar tidak terbatas pada satu saja, yakni gurunya melainkan dimungkinkan untuk dapat memperoleh informasi langsung dari ahlinya.

Apa itu blog?

Sebenarnya saya tidak ingin mengulas hal ini, sebab tulisan dengan topik blog banyak bertebaran di internet yang ditulis oleh para blogger profesional. Tetapi rasanya hambar jika membahas topik blog tanpa menyinggung sedikit secara teoritis apa itu blog.

Sederhananya blog bagi saya adalah buku catatan elektronik yang dibuat oleh seseorang. Isinya bukan hanya tulisan semata, bisa foto atau video tergantung selera pemilik blog.

Guru bangsa yang terkasih, dari sekian banyak manfaat yang ditawarkan blog, apakah masih ada alasan bagi seorang guru untuk tidak menggauli kebaruan teknologi ini?

“Pengen sih tetapi tidak tahu cara membuat blog, Pak”.

Baca: Cara membuat blog tahun 2023

Ada banyak sekali tutorial cara membuat blog di internet, salah satu yang bisa saya rekomendasikan adalah www.sugeng.id seorang blogger profesional yang membahas tentang blog dari awal sampai akhir menggunakan bahasa yang lugas dan mudah untuk dipahami oleh orang awam sekalipun.

Penutup

Pembaca yang terkasih, berdasarkan uraian terdahulu maka dapat saya simpulkan:

Pertama

Dimana saja seorang guru mengabdikan ilmu dan pengetahuannya pasti selalu ada masalah karena yang dihadapi adalah pemuda-pemudi yang masih mencari identitas diri. Tetapi sebagai seorang yang dewasa dan guru profesional yang telah dibekali dengan metode mengajar dan pendekatan yang baik kepada siswa, masalah bisa jadi solusi, tantangan bisa jadi peluang. Dengan syarat, mau berusaha dan mau belajar menerima perkembangan teknologi.

Kedua

Perkembangan zaman yang beriringan dengan maraknya teknologi canggih hadir merambah semua aspek, termasuk dunia pendidikan. Dunia pendidikan akan berhasil mencerdaskan generasi penerus bangsa apabila terbuka dan mau mempelajari hal-hal baru yang disediakan zaman yang terus berkembang.

Ketiga

Blog adalah salah satu solusi alternatif pembelajaran era digital karena siswa-siswi yang dihadapi adalah generasi milenial yang sangat fasih menggunakan internet. Blog adalah bagian dari ratusan aplikasi yang disediakan oleh blogger.com untuk membagikan tulisan (bahan ajar, tugas kepada siswa maupun perolehan nilai), termasuk foto atau video tutorial secara online.

Keempat

Blog bukanlah sesuatu yang baru, sudah banyak blogger professional yang dengan rela membagikan tutorialgratis cara membuat blog kepada siapapun. Satu yang saya rekomendasikan untuk calon guru blogger adalah www.sugeng.id. 

Melalui blog guru bisa menuliskan materi pelajaran, membagikan tugas-tugas sekolah hingga menginput laporan nilai siswa, kemudian dibagikan melalui grup line atau whatsapp. Pada taraf ini ruang dan waktu tidak lagi menjadi kendala bagi guru dan murid untuk belajar. Bukankah ini sesuatu yang sangat menggembirakan bagi dunia pendidikan kita saat ini?

Kelima

Melalui blog, guru bisa melatih diri untuk terus menulis dan menumbuhkan rasa cinta akan literasi kepada peserta didiknya.

Keenam

Blog menjadi pilihan utama saya dalam menjawab tantangan mengajar di era digitalisasi.

Sumber Refrensi

  • Maryanto, Herman; Guruku Matahariku: Merenungi dan Memaknai Profesi, Jakarta: Obor, 2011.
  • Ndraha, Roswittha dan rekan; Tidak Ada Anak yang Sulit: Mendidik Anak dengan Suka Cita dan Cinta yang Melimpah, Yogyakarta: Andi, 2009.
  • http://sugeng.id/tutorial-blogger/

Catatan:

Tulisan ini dalam versi lengkapnya pernah dimuat di penerbit widayasaripress Salatiga-Magelang dengan judul Guru Blogger Solusi Alternatif dalam Menjawab Tantangan Mengajar di Era Digital.